Gue freelancer udah lima tahun. Dan kalau ada satu hal yang gue pelajari dari kerja sendiri di rumah, itu adalah: badan gue gampang rusak tanpa gue sadar. Nggak ada yang ngasih tahu gue buat berdiri. Nggak ada yang negur kalau gue nggak minum dari jam sembilan pagi sampai jam tiga sore. Semua tanggung jawab sendiri.
Masalahnya, saran kesehatan buat freelancer itu biasanya dua ekstrem. Ada yang bilang "disiplinlah, bangun jam lima, olahraga satu jam." Ada juga yang bilang "santai aja, yang penting bahagia." Dua-duanya nggak masuk akal buat orang yang jam kerjanya ngikutin deadline klien.
Baca juga: Gimana Gue Baru Sadar Sehat Itu Soal Hal-Hal Receh?
Jadi minggu lalu gue bikin eksperimen kecil. Bukan revolusi hidup. Cuma rencana tujuh hari, satu kebiasaan receh per hari, dan gue catat mana yang beneran ngefek ke badan dan kepala gue. Ini hasilnya.
Aturan mainnya dulu, biar fair
Gue nggak mau lo baca ini terus mikir "ah dia punya waktu lebih banyak." Nggak. Minggu itu gue lagi pegang tiga proyek sekaligus dan sempat begadang dua malam. Justru itu poinnya.
Aturan yang gue pakai:
- Satu kebiasaan per hari, durasinya maksimal 10 menit. Kalau lebih dari itu, gue skip.
- Nggak ada alat baru, nggak ada beli apa-apa. Semua pakai yang udah ada di rumah.
- Gue nilai pakai dua ukuran: badan (pegal, pusing, energi) dan kepala (fokus, mood).
- Kalau satu kebiasaan kerasa maksa banget, gue tandai "nggak realistis" dan nggak gue paksain.
Oh iya, satu lagi. Gue sengaja nggak bikin jadwal jam. Freelancer dan jadwal jam kaku itu musuh bebuyutan. Yang gue tempel cuma catatan kecil di monitor: "hari ini cuma satu hal."
Hari 1–3: yang gampang tapi sering dilupain
Hari 1 — Berdiri tiap ganti task
Ini kebiasaan paling sepele dan paling ngefek. Tiap gue selesai satu tugas (balas email, revisi desain, kirim invoice), gue berdiri, jalan ke dapur, balik lagi. Total mungkin dua menit.
Hasilnya? Sore hari gue sadar punggung bawah gue nggak protes. Biasanya jam empat gue udah duduk miring kayak udang. Hari itu nggak. Efek sampingnya lucu: gue jadi lebih sering ngecek botol minum, jadi otomatis lebih banyak minum.
Kebiasaan kecil yang nggak butuh niat besar biasanya yang bertahan paling lama.
Hari 2 — Minum sebelum kopi
Gue peminum kopi berat. Dulu gelas pertama masuk sebelum gue cuci muka. Hari kedua eksperimen, gue ubah urutannya: segelas air putih dulu, baru ngopi.
Jujur aja, hari pertama kerasa nggak ada bedanya. Tapi di hari ketiga dan seterusnya gue sadar kepala gue nggak "berat" di pagi hari. Ternyata selama ini gue sering dehidrasi ringan dan ngira itu kurang kafein. Jadi nambah kopi terus, padahal yang kurang cuma air.
Hari 3 — Jeda 20 detik lihat jauh
Ini buat mata. Tiap kali gue mau buka tab baru atau balik ke dokumen, gue alihin pandangan ke pohon di luar jendela, hitung sampai dua puluh. Nggak lama, nggak ribet.
Mata gue tetap capek sih, namanya juga kerja layar. Tapi yang berubah: gue nggak segera minum obat sakit kepala sore itu. Biasanya tiap Rabu gue udah nyari-nyari paracetamol. Minggu ini nggak.
Hari 4–5: yang mulai kerasa maksa
Hari 4 — Jalan kaki 10 menit setelah makan siang
Nah ini yang gue hampir skip. Keluar rumah pas jam dua siang, panas, dan gue lagi ngejar deadline. Tapi gue paksa sepuluh menit keliling kompleks.
Hasilnya campur aduk. Badan enak, kepala lebih seger, dan gue nggak ngantuk berat jam tiga. Tapi jujur, buat freelancer yang lagi dikejar klien, keluar rumah sepuluh menit itu kerasa kayak kehilangan setengah jam. Jadi gue kasih catatan: ini layak, tapi taruh di hari yang lo nggak terlalu padat. Kalau dipaksa tiap hari, lo bakal brenti di hari keempat.
Hari 5 — Matiin notifikasi 45 menit
Ini bukan soal badan, tapi soal kepala. Gue matiin semua notifikasi chat dan email selama 45 menit blok kerja. Klien bisa nunggu 45 menit. Kalau beneran darurat, mereka telepon.
Dan ini yang paling gue rasain bedanya. Fokus gue lebih panjang, dan yang lebih penting: gue nggak ngerasa "dikejar" sepanjang hari. Ternyata rasa was-was karena notifikasi itu capeknya nyata, cuma nggak kelihatan di badan.
Hari 6–7: yang ternyata mitos buat gue
Dua hari terakhir gue pakai buat uji dua hal yang sering disaranin orang tapi gue curigai.
Hari 6: bangun jam lima pagi. Gue coba. Hasilnya: seharian gue jadi zombie, dan jam sembilan malam gue ketiduran di depan laptop sambil masih ada file kebuka. Buat gue, ini nggak realistis. Bukan karena gue malas, tapi karena jam kerja gue sering molor sampai malam. Memaksakan bangun subuh cuma bikin tidur gue makin kurang. Gue tandai: skip.
Hari 7: olahraga satu jam penuh. Gue coba jalan cepat satu jam. Badan enak, tapi gue kehilangan separuh hari kerja dan besoknya gue males gerak sama sekali. Pelajaran yang gue ambil: buat freelancer, olahraga 10–15 menit yang konsisten lebih masuk akal daripada satu jam yang bikin kapok.
Yang gue bawa ke minggu berikutnya
Dari tujuh percobaan, gue cuma simpan empat. Berdiri tiap ganti task, minum sebelum kopi, jeda lihat jauh, dan matiin notifikasi 45 menit. Empat-empatnya nggak butuh alat, nggak butuh niat besar, dan nggak bikin jadwal kerja gue berantakan.
Yang gue buang: bangun jam lima dan olahraga satu jam. Bukan karena nggak sehat, tapi karena buat ritme kerja kayak gue, dua-duanya cuma bakal bertahan tiga hari lalu mati.
Dan ini bagian yang paling gue ingin lo catat. Selama ini gue mikir sehat itu soal nambah sesuatu: nambah olahraga, nambah suplemen, nambah jam tidur. Ternyata yang paling ngefek buat gue justru ngurangin hal receh — kurang duduk diam, kurang notifikasi, kurang kopi di pagi hari.
Kalau lo freelancer dan ngerasa badan lo mulai protes tapi nggak punya waktu buat "hidup sehat" versi Instagram, coba ambil satu kebiasaan dari daftar di atas. Satu aja. Jalanin seminggu, catat hasilnya di notes HP. Kalau nggak ngefek, buang. Kalau ngefek, simpan.
Nggak perlu rencana besar. Kadang yang bikin badan lo bertahan kerja sendiri cuma urutan minum di pagi hari yang lo ubah.